Home Faris Ibrahim

Faris Ibrahim

Muhammad Faris Ibrahim. Pemuda kelahiran 26 Mei 1998 ini sekarang sedang menempuh kuliah di Universitas Al Azhar Kairo Mesir, Fakultas Ushuluddin. Di samping hobinya mengkaji dan membaca literatur pemikiran, tercatat beberapa organisasi pernah digelutinya, di antaranya adalah jabatan Ketua ISMA (Ikatan Santri Ma'had Al Qudwah 2015- 2016), KNRP, Pesona AL QUDS, Garuda Keadilan, Editor majalah Ahsanta KMB, Kajian Al-Hikmah, Suara PPMI Mesir.

Kenapa Sih Kita Mesti Menghafal Al- Qur’an?

Assalamualaikum wa rohmatullah       Bismillah. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa terlimpah kepada Nabi Muhammad, beserta keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan. Mungkin saat ini masih banyak muslim yang berkata, ”buat apa sih menghafal Qur’an yang bukan Bahasa kita? Bukanlah lebih baik kita mebaca terjemahnya […]

Keluarga, itulah Medan Pertama Para Pejuang Literasi

“Hai orang- orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. Firman Allah Ta’ala yang satu ini menyiratkan pada kita sebagai makhluk yang beriman untuk senantiasa menyusun prioritas dalam berdakwah, menyusun kebaikan dari yang terkecil hingga yang terbesar, dari yang terpenting hingga yang tidak kalah penting, keluarga sendiri terlebih dahulu, baru masyarakat.   Bagaimanapun […]

Mempersepsi Lingkungan dan Suasana, Itulah Literasi

Lingkungan, suasana dan literasi, beberapa hal yang amat sangat lekat. Jika kita membaca kembali biografi para pemikir kita, maka akan kita temukan bahwa  aktifitas literasi mereka selalu berkutat di ruang dan kondisi yang unik. Sebut saja salah satunya adalah Sayyid Qutb, mungkin karyanya begitu banyak, namun karya monumentalnya yang masyhur kita kenal adalah Fi Zhilal, […]

Namun Sayang, Hari ini Kita Malas Membaca

Ada paparan menarik dari kuliah pemikiran yang baru- baru ini saya ikuti, Dr. Bakr Zakr Awwad mantan dekan fakultas Ushuluddin Al- Azhar menyampaikan bahwa apabila kita membandingkan produk pemikiran agama kita dan agama lain maka akan kita temukan perbandingannya adalah 1000 banding 1, luar biasa. Itu membuktikan, bahwa gelar kita sebagai Ummatul Qiroah pernah membumi menggentarkan sejarah […]

Literasi dan Kesederhanaan

Di abad ke- 2 hijriyyah terdapat sosok dibalik sejarah penulisan literasi Hadits. Ialah Umar bin Abdil Aziz yang dijuluki khulafa’ rasyidin ke- 5 saking suksesnya memimpin khilafah di masa itu. Sosok yang menyuruh Az- zuhri (orang yang membukukan hadits pertama kali) ini tadinya adalah orang yang sangat kaya gemerlap kemewahan, namun, saat ia mulai memangku […]

Belajar Akhlak Berliterasi dari Hassan al- Banna

“Kamu adalah yang kamu baca, kamu adalah yang kamu tulis”. Perkataan itu mungkin berlaku untuk kebanyakan orang, namun tidak untuk Dale Carnegie. Penulis buku How to Win Friends & Influence Others ini, ditemukan meregang nyawa bunuh diri. Buku Dale yang kebanyakan berbicara tentang pengembangan diri, tidak serta merta menjamin dirinya mengenal dirinya sendiri. Khotbahnya berbalik menghukuminya, […]

Cara Menulis Buku Ala Hassan al- Banna

Masih banyak dari kita yang mengira bahwa aktifitas menulis adalah perkara yang sulit. Berbagai alasan kita lontarkan untuk menjadi pembenaran. Ngurus anak, ngantor seharian, tugas kuliah numpuk, nggak ada waktu, semuanya adalah sekian dari alasan kita mengurungkan niat untuk menulis. Sebagian dari kita juga ada yang enggan menulis, bukan karena kesibukkan, tapi tidak tahu caranya, […]

Apa Hubungan Antara Mencari Pahlawan, Menyurati Generasi, dan Literasi?

Menyurati generasi, literasi dan kepahlawanan, bertemu dalam satu rangkai kata, hasrat menyejarah. Hasrat menyejarah, paling tidak lahir dari 2 perkataan pemikir Islam yang kita segani, Sayyid Qutb dan Malik bin Nabi. Kata Sayyid, “orang yang hidup untuk dirinya sendiri adalah orang yang kerdil”. Kemudian Malik bin Nabi melegasikan hasrat tersebut menjadi sebuah ambisi, di penghujung […]

Hikmah dari Tomoe Gakuen: Mendidik itu Menumbuhkan Kasih Sayang

Di Tomoe Gakuen, salah satu sekolah non- formal pertama di Jepang, Toto- chan dan kawan- kawannya diamanahi oleh kepala sekolah untuk menjaga satu pohon di halaman sekolah. Pohon- pohon tersebut dapat dibilang merupakan wilayah kekuasaan setiap anak di Tomoe Gakuen, setiap anak menyiraminya, merawatnya, sampai- sampai apabila ada anak lain yang mengunjungi pohon yang bukan […]

Hikmah dari Tomoe Gakuen: Mendidik itu Mengaktifkan Imajinasi

Teringat perkataan bu Ann kepada teman lelakinya di Teacher’s Diary, sesaat sebelum mereka berpisah “ia mungkin bisa tepat waktu mengerjakan ujiannya, tapi ia tidak akan pernah tahu kereta itu seperti apa”, kata bu Ann berkomentar tentang salah satu anak didiknya yang gagal mengerjakan ujian nasional karena kehabisan waktu membayangkan soal matematika yang diuraikan lewat analogi […]